12 Jan 2011

Sejarah Gempa Bumi dan Tsunami di Maluku

GEMPA TEKTONIK berkekuatan 7,3 skala richter yang mengguncang Kepulauan Maluku tanggal 28 Januari 2005 dinihari, membangkitkan trauma masa lalu sebagian masyarakat yang mendiami Kepulauan Maluku khususnya Pulau Seram Kabupaten Maluku Tengah. Ketakutan akan gempa susulan disertai tsunami mengingatkan warga akan bencana alam yang pernah terjadi sebelumnya pada 200-an tahun lalu.

Dampak musibah alam saat itu, dua kampung di selatan Pulau Seram yakni Elpaputih dan Amahai tenggelam akibat digulung gelombang pasang tsunami. Warga Amahai yang tersisa memilih eksodus ke arah timur dan mendirikan kampung baru dengan nama Rutah atau “Runtuhan Amahai”. Ke Rutah, pada pintu masuk kampung itu kita akan mendapati sebuah monumen yang menceritakan musibah tsunami yang dikenal masyarakat setempat sebagai “Musibah Seram”.

Gempa yang kembali terjadi pada 28 Januari 2005 membuat banyak orang mengungsi karena kuatir terjadi tsunami. Dampak gempa bukan saja menewaskan dua warga akibat panik, yang lebih menggegerkan lagi terjadi patahan tanah di dua wilayah Pulau Seram tepatnya di Kecamatan Tehoru dan Elpaputih.

Kerusakan parah terjadi di Tehoru. Dua rumah warga dan sekitar satu hektar daratan terperosok ke laut akibat patahan di semanjung Dusun Mahu. Sedangkan lima rumah warga lainnya pada lokasi yang sama terancam tenggelam.

Patahan yang terjadi akibat guncangan gempa sepanjang 75 meter, lebar sekitar 50 meter, dan kedalamannya 15 meter. Sedangkan kedalaman patahan pada titik terluar diperkirakan mencapai 80 meter. Selain itu, patahan juga terjadi di bibir pantai dari dusun Mahu hingga desa induk, Tehoru, sepanjang kurang lebih empat kilometer.

Patahan yang sama terjadi di bibir pantai desa Samasuru Tanjung Elpaputih Kabupaten Maluku Tengah. Panjangnya mencapai 40 meter dengan kedalaman 1 hingga 3 meter. Di Elpaputih, patahan akibat gempa yang terjadi tidak berdampak pada rumah warga di sekitar lokasi itu. Namun, sebagian warga yang tinggal di pesisir pantai masih khawatir untuk kembali ke rumah.

Kepala Badan Geofisika Ambon Benny Sipollo mengatakan,  patahan di Tehoru dan Elpaputih karena letak kedua desa berada pada pesisir selatan Pulau Seram, berhadapan langsung dengan Laut Banda yang menjadi pusat gempa.

Menurutnya, kekuatiran warga cukup beralasan sebab tahun 1800-an pernah terjadi tsunami di Pulau Seram yang memakan korban cukup besar. Gelombang tsunami saat itu menghantam pantai selatan Seram Barat sampai ke Tehoru (Maluku Tengah), dengan jarak ratusan kilometer. Ada daerah yang habis tetapi ada daerah yang hanya terkena dampak. Saat itu dua kampung yang tenggelam adalah desa Elpaputih dan Amahai.

Sejarah mencatat, sejak tahun 1830, Maluku pernah dilanda bencana akibat gempa bumi sebanyak 31 kali. Dari bencana itu, 12 kali diantaranya melanda Pulau Ambon dengan kekuatan 5-10 SR. Sedangkan tsunami yang pernah melanda Maluku sebanyak 8 kali, di Ambon terjadi 3 kali. Dengan demikian, Ambon dan sekitarnya termasuk daerah yang sangat rawan goncangan gempa bumi dan juga tsunami.

Kondisi yang membuat wilayah Kepulauan Maluku berpotensi gempa karena menjadi daerah pertemuan tiga lempeng penyusun kulit bumi yakni Indoaustralia, Eurasia, dan Pasifik. Ketiga lempeng relatif bergerak satu terhadap yang lain sehingga Kepulauan Maluku mengalami aktivitas gempa bumi yang sangat tinggi akibat muncul patahan yang juga merupakan generator aktivitas gempa bumi.

Pertemuan tiga lempeng penyusun kulit bumi di Maluku ini pusatnya berada di Laut Banda. Laut terdalam di Indonesia ini memiliki kedalaman sekitar 5.000 meter. Palungnya mencapai kedalaman sekitar 7.000 meter.

“Kondisi lempeng tektonik yang bertemu pada wilayah kepulauan Maluku menjadikan wilayah ini sangat rawan bencana gempa bumi dan tsunami. Salah satu kekhawatiran penduduk Maluku khususnya di wilayah Maluku Tengah adalah gempa berkekuatan 7,3 SR yang terjadi pada Sabtu dinihari itu membuat tsunami,” terang Benny.

Tsunami bisa terjadi jika pusat gempa berada di bawah laut dengan kekuatan guncangan di atas 6,2 SR. Syarat lainnya, kedalaman lebih kecil dari 60 kilometer. “Untungnya, gempa tektonik yang terjadi pada Sabtu dinihari tidak memenuhi syarat sepenuhnya untuk menciptakan tsunami. Karena pusat gempa berada di Laut Banda dengan kedalaman episentrum 330 kilometer,” sebutnya.

Kemungkinan besar lain yang bisa menciptakan tsunami adalah jika terjadi patahan di dasar laut secara vertikal dengan kedalaman kurang dari 60 kilometer. Apabila mekanisme patahan horisontal, maka kemungkinan terjadi tsunami sangat kecil.

Selain gempa tektonik yang diakibatkan oleh patahan, gempa juga bisa ditimbulkan oleh letusan gunung api atau gempa vulkanik. Di wilayah kepulauan Maluku sendiri terdapat sembilan gunung api yang cukup aktif, tiga diantaranya berada di dasar laut.

Siklus gunung api di Maluku di atas 20 sampai 50 tahun. Siklus yang panjang ini, menurut Benny, justru lebih berbahaya karena menyimpang tenaga yang cukup besar di dalam perut gunung api. Jika suatu saat terjadi letusan, maka letusannya akan sangat dasyat.

Dari sembilan gunung api aktif ini hanya dua yang mempunyai pos pengamatan, yaitu Gunung Worwali di Pulau Damar Kabupaten Maluku Tenggara Barat dan Gunung Api Banda di Pulau Banda Kabupaten Maluku Tengah. Gunung-gunung ini sekarang statusnya aktif normal. Jadi belum ada tanda-tanda keaktifan yang meningkat. Kedua gunung api ini berada di dekat pemukiman sehingga diprioritaskan untuk penempatan pos pengamatan.

Siklus gunung api antara 20 tahunan maka akan meletus kembali. Yang paling terakhir meletus adalah Gunung Api Banda yakni pada tahun 1989. Dari catatan saat ini semua masih aktif normal, dimana kegempaannya baik vulkanik maupun tektonik masih normal.

Potensi bahaya yang kemungkinan terjadi akibat letusan gunung api jangan dipandang sebelah mata. Perlu ada kewaspadaan dini. Karena potensinya bahayanya bisa sangat tinggi. Ini disebabkan siklus dari gunung-gunung api di Maluku sangat panjang sehingga apabila terjadi letusan maka dia akan sangat ekslusife. Gunung api ini diprediksi akan mengeluarkan lahar dan lava dengan sangat besar.

Gunung-gunung api ini harus terus dipantau. Jika intensitas gempanya sudah cukup banyak dan skalanya besar maka statusnya bukan lagi aktif normal tetapi aktif, dan apabila keaktifannya sudah mulai meningkat berarti penduduk di sekitarnya harus segera diungsikan.

Di Pulau Ambon sendiri terdapat 10 zona garis patahan. Tiga diantaranya berada pada daerah pemukiman padat penduduk. Jalan Pattimura Ambon naik sampai ke kawasan Batumeja masuk dalam salah satu zona patahan itu. Yang lebih rawan lagi adalah daerah Poka-Rumahtiga karena dilalui tiga garis patahan.

Ketiga garis patahan itu berada di Tanjung Marthapons, di belakang Poka Rumahtiga dari Waiyame melintang garis patahan sampai ke Telaga Kodok dan patahan dari Waiyame naik ke arah Utara Pulau Ambon. Dengan kondisi seperti itu membuat kawasan ini sangat rawan. Patahan-patahan ini akan aktif kalau terjadi gempa besar.

Ada tiga jenis gempa berdasarkan keaktifannya yakni gempa yang sudah tidak aktif, berpotensi aktif, dan gempa aktif. Di Maluku belum dijumpai gempa aktif. Namun di Pulau Ambon misalnya, masuk dalam kategori patahan-patahan berpotensi aktif dimana jika terjadi gempa besar bisa menimbulam bencana.